MUHAMMAD TELADAN PERILAKU TERBAIK SEPANJANG MASA

Posted on Updated on

MUHAMMAD TELADAN PERILAKU TERBAIK SEPANJANG MASA

 

MENELADANI RASULULLAH

Setelah cukup sembilan bulan, Aminah mengandung dengan tidak mendapat halangan apa pun, maka, pada subuh, Senin, 9 Rabi’ul Awwal Tahun Fil ke-1, bertepatan dengan tanggal 20 April 571 Masehi, lahirlah Nabi Muhammad, dengan selamat di rumah ibunya di kampung Bani Hasyim di kota Mekah Al Mukarramah. Dalam riwayat lain dinyatakan : di rumah Abu Thalib. Ketika itu, yang menjadi bidan untuk merawatnya adalah Siti Syifa’, Ibu Sahabat Abdur Rahman bin Auf. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa anak itu dipeluk dan digendong oleh Abdul Muthallib dan segera dibawa ke Ka’bah. Lantas dia masuk ke dalamnya dan berdiri sambil berdoa kepada Allah menyampaikan syukur kepada-Nya kemudian membawa keluar untuk diserahkan kepada ibunya (Chalil, 2001).

Meneladani Nabi Muhammad adalah salah satu cara untuk berakhlak kepadanya. Semua ini merupakan konsekuensi logis dari iman akan adanya Nabi Muhammad sebagai Rasulullah. Beriman kepada Rasulullah adalah meyakini dan memercayai dengan sepenuh hati bahwa Allah memilih di antara manusia untuk dijadikan rasul-Nya untuk menyampaikan wahyu-wahyu-Nya kepada umat manusia. Meneladani Nabi Muhammad dalam kehidupan seharihari harus dimulai dengan mengetahui apa saja sifat-sifat yang dimilikinya dan bagaimana perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Alquran dan Sunnah/Hadits, sebagai dua sumber utama ajaran Islam, memberikan informasi yang lengkap tentang semua sifat dan perilaku Nabi Muhammad Dengan menjadikan kedua sumber ajaran ini sebagai landasan utama dalam sikap dan perilaku kita, berarti kita benar-benar telah meneladani Nabi Muhammad dalam kehidupan kita sehari-hari (Marzuki, 2008).

Islam menempatkan akhlak sebagai ukuran kesempurnaan agama. Seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mesti menunjukkan kemuliaan akhlak. Di mana pun temaptnya; di jalan, saat berkendara, di rumah, saat makan dan minum, di kantor, kampus, kemuliaan akhlak sejatinya menjadi prioritas (Hidayat, 2014).

PEMAAF

Sebuah kisah yang cukup populer menceritakan kepad kita bagaimana sifat pemaaf Rasulullah kepada musuhnya. Suatu hari, ketika beliau sedang istirahat di sebatang pohon kurma, tiba-tiba datang seorang kafir yang hendak membunuhnya. Saat itu ia menghunuskan pedang kepada Nabi dan berkata, “Wahai Muhammad, siapa yang bisa melindungimu kalau hari ini kau kubunuh?” Dengan tenang Nabi menjawab, “Allah”. Mendengar jawaban spontan dari Rasulullah, tubuh si kafir tadi bergetar dan akhirnya terjatuhlah pedangnya ke tanah. Kemudian Nabi memungut pedang tersebut dan menanyakan hal yang sama kepada kafir tersebut. Ia ketakutan dan menyatakan hanya Rasulullah saja yang dapat melindungi dirinya dari kematian. Nabi pun memaafkannya. Tidak sedikit pun tergores rasa dendan beliau kepada orang tersebut (Iqbal, 2007).

Kepribadian Rasulullah yang pemaaf itu dapat pula kita lihat tatkala Nabi memaaafkan perempuan Yahudi yang telah meracuninya (Tasmara, 2006).

ADIL

An-Nasai meriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir bahwa bapaknya memberikannya hibah, maka ibunya berkata kepadanya, “Mintalah kesaksian Nabi atas apa yang telah engkau berikan kepada anakku.” Maka dia pun datang kepada Nabi dan menceritakannya kepada beliau. Nabi pun membenci untuk bersaksi untuknya (Karena Basyir tidak berlaku adil kepada anak-anaknya yang lain). Dalam hadits riwayat Muslim mengenai kisah yang sama disebutkan bahwa Rasulullah lalu berkata kepadanya, “Wahai Basyir, apakah kamu mempunyai anak selain dia?” Dia menjawab, “Ya.” Beliau berkata, “Apakah mereka semua mendapat pemberian seperti ini?” Dia menjawab,”Tidak.” Beliau berkata, “ Maka janganakah kamu menjadikan aku sebagai saksi dalam hal ini, karena sesungguhnya aku tidak mau bersaksi terhadap yang tidak adil.” (Tharsyah, 2006)

SABAR

Bukan hanya sekali saja Nabi dihina. Bahkan ada seorang wanita tua yang berani mencerca Nabi. Setiap kali Nabi melintas muka rumahnya, kala itu pula si wanita meludahkan air liurnya, “Cuh,cuh,cuh.” Peristiwa itu berungkali terjadi bahkan hampir tiap hari (Nashiruddin. 1992). Bahkan, ketika si wanita tersebut sakit, Nabi menjenguknya.

Sejak daingkat menjadi Nabi, berbagai cobaan dan ujian dilaluinya dengan penuh kesabaran; diejek, dihina, dilempari batu, jalan-jalan yang biasa dilaluinya dipasangi duri dan paku, bahkan saat beribadah di sekitar Ka’bah, sering dilempari kotoran hewan. Berbagai jenis pennyiksaan dan penganiayaan beliau hadapi. Penolokan masyarakat, bahkan boikot ekonomi selama tiga tahun terhadap beliau dan pengikutnya, diterima dengan sabar (Solikhin, 2009).

DERMAWAN

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Rasulullah orang yang paling bermurah hati, dan menjadi lebih bermurah hati, dan menjadi lebih bermurah hati lagi ketika bulan Ramadhan saat ditemui Jibril untuk membacakan Al-Qur’an kepadanya. Rasulullah adalah orang yang sangat lembut hatinya, lebih lembut daripada angin yang bertiup.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim) (Syeikh Said Abdul Azhim, 2006).

Selain sukses sebagai wirausahawan, Nabi Muhammad juga terkenal dermawan. Sejarah mencatat bahawa beliau pernah berqurban dalam jumlah besar, sebanyak 100 unta secara pribadi. Jika dikonversi ke mata uang Indonesia saat ini, sebutlah harga seekor berkisar Rp7-10 juta. Berarti beliau telah berkurban senilai Rp 700-1 milyar. Ini adalah jumlah yang sangat besar untuk hewan qurban atas nama satu orang di sepanjang sejarah peradaban (Malahayati, 2010).

JUJUR

Muhammad dilahirkan di Makkah dan kemudian wafat di Madinah. Sejak kecil Muhammad selalu bekerja keras dan tidak pernah bermalas-malasan. Sejak kecil pula Muhammad sudah menampakkan akhlaknya yang sangat mulia dan tidak pernah sekalipun menampakkan akhlak yang jelek. Karena kejujurannya, Muhammad mendapat gelar Al-Amin yang artinya yang jujur (Marzuki, 2008).

Pengalaman Muhammad merupakan hasil terpaan pergulatannya dengan kehidupan masyarakat Jahiliyyah. Sejak usia 12 tahun Muhammad memiliki kecenderungan berbisnis. Ia pernah melakukan perjalanan ke Syam bersama pamannya, Abu Thalib. Ia juga mengunjungi pasar-pasar dan festival perdagangan, seperti di pasar Ukaz, Majinna, Dzul Majaz dan tempat lainnya. Gelar Al-Amin bagi dirinya yang waktu itu ia masih muda semakin menambah para pebisnis lain untuk membangun jaringan bersamanya, baik ketika ia menjadi karyawan Khadijah maupun menjadi suaminya (Saifullah, 2011).

Referensi di sini

 

* Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Menulis Artikel Blog Periode 1-2015

*Tulisan ini diikutsertakan pada <a href=”http://www.ichal.net/p/lomba-menulis-artikel-blog.html”>Lomba Menulis Artikel Blog Periode 1-2015</a>

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s